I. Nama Desa : Desa Galungan
II. Sejarah Desa
Menurut cerita orang tua Desa ini dahulu terletak disebelah utara 300 m dari pusat Desa sekarang dan tempat tersebut diberi nama Gainang.
Menurut penuturan para tetua bahwa pada waktu warga desa mengadakan persiapan upacara agama dan ketika para kaum ibu sedang ngayah dipura (mekeet), seekor kijang putih (kidang putih) mendekati ibu-ibu yang sedang mekeet. Melihat keadaan tersebut, secara sepontan masyarakat mengejar dan menangkap kijang tersebut , setelah berhasil ditangkap, kijang itu pun disembelih dan dagingnya dibagi-bagi oleh seluruh warga desa. Berselang beberapa lama setelah peristiwa tersebut , warga masyarakat ditimpah wabah penyakit (Bah Bedeg) dan hampir setiap KK anggota keluarganya ada yang kena penyakit dan meninggal. Keadaan tersebut konon berlangsung setiap hari sehingga mayat-mayat tidak ada lagi yang mengubur dan membusuk dan berserakan diseluruh wilayah desa. . Lama-kelamaan mayat tersebut hanya tinggal tulang yang sudah mengerin (selling), keadaan tulang belulang manusia mengering ini disebut megaing yang artinya tulang yang mongering tidak terkubur.
Warga masyarakat yang masih hidup, bersepakat untuk pindah dari tempat semula menuju kesebelah selatan , yaitu di pusat Banjar Desa sekarang, konon perpindahan warga tersebut bertepatan dengan Hari Raya Galungan, sehingga wilayah pemukiman yang baru itu langsung diberinama Desa Galungan.
Adapun bukti-bukti yang dapat dipercaya mengenai kebenaran adanya lokasi yang disebut sebagai bekas lokasi Banjar Seming adalah :
1. Pada lokasi tersebut banyak ditemukan oleh warga barang-barang perhiasan yang terbuat dari emas dan permata
2. Bukti lain yang sangat diyakini oleh warga masyarakat Desa Galungan sampai saat ini adalah seringnya terdengar suara kijang (kidang seret) di hutan lindung di sekitar bukit Galungan, suara kijang tersebut diyakini sebagai cirri/bertanda (wangsit) akan terjadi sesuatu di desa ini
3. Adanya tradisi meboros kidang berburu kijang selama 3 (tiga) hari menjelang dilangsungkan piodalan (upacara) di Pura Desa
4. Pada puncak upacara piodalan di Pura Puseh , Pura Bukit dilangsungkan tarian sacral Mekidang-kidangan oleh Teruna-Pesaren